Urgensitas Peta Digital Potensi Desa Sebagai Dasar Dalam Penyusunan Program Perencanaan Desa.

Pertarungan dalam kontastasi pemenangan sabagai seorang kepala desa yang baru terpilih menjadi kepala desa, bukan berarti telah selesai. Namun menjadi sebuah awal dimana seorang kepala desa terpilih harus mampu menuju tantangan baru. Tantang utama adalah, sebelum menginjak 3 bulan terpilih menduduki tahta, kepala desa harus sudah rampung dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa atau RPJM Desa, hal ini sesuai apa yang di amanatkan dalam Undang – Undang Nomer 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Penyusuan RPJM Desa nantinya akan memuat visi misi kepala desa, arah kebijakan pembangunan desa, rencana kegiatan desa yang terdiri dari penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu RPJM Desa mampu menunjukkan secara jelas target yang akan dicapai selama kepemimpinan kepala desa tersebut. Selain RPJM Desa, pemerintahan desa juga harus menyusun Rencana Kerja Pembangunan Desa yang berlaku untuk satu tahun, dengan RKP ini tentu saja haruslah sesuai yang ada dalam RPJM Desa. RKP Desa disusun bredasarkan potensi-potensi yang ada di wilayah desa tersebut, baik itu potensi ekonomi, potensi sosial, potensi alam, potensi budaya, dan potensi-potensi lain yang berada dalam kawasan desa tersebut. Semua kegiatan itu mutlak dan diharuskan sesuai siklus desa yang sudah ditetapkan sesuai dengan Permendagri 114 tahun 2014 tentang pedoman pembangunan desa.

Banyak kesulitan terjadi selama proses identifikasi potensi desa, sehingga proses kajian identifikasi potensi dan kondisi desa yang selama ini menghambat proses penyusunan  perencanaan pembangunan desa, dan bahkan hasilnya pun terkadang tidak sesuai dengan kondisi riil desa tersebut.

Konsep peta digital desa, hadir dengan harapan besar mampu mengidentifikasi data-data dalam bentuk sekali “klik” didepan sebuah laptop bahkan dangan dalam genggaman ponsel pintar  android mampu menunjukkan potensi secara menyeluruh dan cepat dalam lingkup skala desa, yang selama ini proses perancanan pembangunan desa terkadang membutuhkan waktu cukup panjang ketika menghasilkan data potensi desa partisipatif dan peta wilayah seluruh desa.

Pemetaan digital adalah suatu cara dalam pembuatan pata yang berupa gambaran permukaan bumi dengan bantuan media komputer, baik untuk keperluan percatakan maupun dalam format peta digital (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, 2006). Seiring dengan perkambangan teknologi komputer dan informasi, pemetaan digital manjadi sarana penting dalam penyajian suatu spasial secara cepat dalam pengolahan data, penyimpanan, managemen, dan pengolahan datanya.

Data spasial sendiri adalah data yang memiliki referensi ruang kebumian (georeference) diamana berbagai data atribut terletak dalam berbagai unit spasial. Sekarang ini data spasial menjadi media penting untuk perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan pada cakupan wilayah kontinental, nasional, regional maupun sekala lokal seperti perencanaan ditingkat desa. Pemetaan desa semakin meningkat setelah adanya teknologi pemetaan digital dan pemanfaatannya pada Sistem Informasi Geografis (SIG). Format data spasial dapat berupa vector (polygon, line, points) maupun raster.

Peta digital potensi desa tidak hanya berhenti sampai di situ saja, kebutuhan untuk selalu up to date merupakan satu keharusan agar pemanfaatan data tersebut selalu maksimal. Peta digital potensi desa yang telah dihasilkan tersebut, kemudian untuk keberlanjutannya dilakukan assesment untuk pemanfaatan dan pengolahan data secara bertahap. Berdasarkan kajian atas hasil assesment tersebut dan juga didorong untuk selalu dilakukan pengembangan dan perbaikan, sampai pada pengembangan satu aplikasi. Aplikasi ini adalah sistem pengolahan data sosial berbasis GIS yang menghasilkan peta potensi desa digital dengan berbagai jenis tematik. Aplikasi ini disesuaikan dengan standar pemetaan digital sehingga mudah terintegrasi, dengan sistem komputer ini juga memudahkan dalam proses update dan visualisasi datanya.

Proses pembuatan peta digital potensi desa secara umum hampir sama dengan proses penyusunan potensi desa, yaitu dengan melakukan FGD dengan melibatkan semua unsur masyarakat maupun unsur lembaga desa dan unsur organisasi baik formal maupun nonformal di desa tersebut.

Tetapi sebenarnya ada yang lebih penting dari itu dimana substansi dari tersusunnya peta digital potensi desa adalah sebagai media kontrol dalam proses perencanaan dan penganggaran yang ada di desa. Sebagai contoh dalam peta menunjukkan potensi ekonomi seperti sebaran ekonomi UKM yang ada disetiap dusun bahkan RT, kondisi UKM serta pemasaran yang sudah dilakukan saat ini, sebagai contoh lain potensi infrastruktur seperti pembangunan jalan pada setiap dusun, kondisi ruas jalan, jumlah ruas jalan yang masih rusak atau ruas jalan yang sudah dilakukan perkerasan di masing-masing pedukuhan atau bahkan tingkat RT, dan masih banyak lagi. Jika dalam proses penganggaran konsisten terhadap proses perencanaan maka penganggaran desa akan lebih terfokus pada wilayah dusun atau RT yang dianggap kurang tersebut. Dan apabila dalam penganggaran di desa tidak konsisten dengan mengingkari proses perencanaan dimana focus penganggaran di wilayah dusun atau RT yang lain, masyarakat selayaknya mempunyai peran mengingatkan bahkan menegur kepada pihak pemerintah desa. Titik paling kritis adalah pada saat proses penganggaran atau pada saat penyusunan APB Desa. Jangan sampai masyarakat sudah berpartisipasi dalam perencanaan namun lupa mengawal proses penganggaran sehingga hasil tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat. Terakhir dan yang lebih penting adalah, peran masyarakat dan seluruh stakeholder tingkat desa jangan sampai dalam posisi tidak dilibatkan atau dimandulkan dalam artian tidak dilibatkan mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan.

Penulis: Henri Krismawan, SP., MM – Direktur SDS Institute Jogja

Leave A Comment