Pendampingan Pengembangan Tanaman Sorgum Berbasis Cluster Industri di Kec. Pleret & Panggang

Salah satu langkah untuk mencapai ketahanan pangan nasional dan kemandirian energi adalah melalui pengembangan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Pertanian berkelanjutan merupakan sebuah sistem pertanian yang mampu berlanjut untuk saat ini dan masa yang akan datang. Sistem ini dituntut mampu mengelola sumberdaya untuk kepentingan pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta konservasi sumberdaya alam. Pertanian berkelanjutan dapat mendukung optimalnya pembangunan pertanian secara berkelanjutan.

Pembangunan pertanian berkelanjutan lebih mentitikberatkan pada keadaan yang akan terjadi pada beberapa tahun kedepan, seperti kekurangan pangan akibat situasi ekonomi politik yang tidak menguntungkan dan ledakan penduduk yang luar biasa. Salah satu permasalahan yang menghambat pembangunan pertanian berkelanjutan adalah penyusutan lahan. Lahan pertanian terus berkurang sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Pemanfaatan lahan marjinal dan pengotimalan produksi diharapkan bisa membantu menjadi solusi penyusutan lahan yang terus terjadi.

Di sisi lain Pangan dan Energi sangat berkaitan dengan keberlangsungan hidup manusia. Kurangnya ketersediaan pangan dan habisnya energi fosil untuk mencukupi kebutuhan masyarakat dalam suatu negara akan mengakibatkan menurunya kesejahteraan hidup, penyakit, kelaparan, bahkan bencana. 

Oleh karena itulah Lembaga Strategi Pembangunan Berkelanjutan (LSPB), berkomitmen dalam rangka melakukan diversifikasi pangan dan menciptakan energi terbarukan dengan pengembangan Sorgum manis dilahan-lahan marginal.

Pengembangan  tanaman sorgum manis ini menitik beratkan pada sistem cluster pada kelompok-kelompok petani dengan menanami tanaman sorgum dibeberapa lahan yang mereka garap.

Pemanfaatan sebagain lahan milik petani tersebut tentu sangat berpotensi dalam menghasilkan bahan pangan maupun sumber bahan energi terbarukan untuk mencukupi kebutuhan dalam kawasan tersebut. Langkah ini tentu perlu perlu dibarengi dengan langkah pemerintah yang mengatur ekstensifikasi lahan marjinal guna meningkatkan produktivitas pertanian, terutama komoditas pangan dan energi terbarukan dan dukungan alsintan dan wawasan terkait cara intensifikasi lahan marjinal bagi para pelaku budidaya pertanian.

Pemanfaatan tanaman sorgum saat ini berasal dari batang, biji dan daun sorgum. Pemanfaatn batang dilakukan dengan melakukan pembelian batang dari petani binaan kemudian dilakukan proses penggilingan batang untuk diperoleh nira sorgum dengan randemen antara 35% – 40% dengan rata-rata brik sebesar 11-14 dari nira sorgum.

Sedangkan biji sorgum saat ini di beli dari petani binaan untuk beberapa di keringkan dan dijual ke pengepul dan beberapa diolah menjadi beberapa hasil olahan makanan seperti tape biji sorgum, Popping Sorgum (brodong sorgum), serta dilakukan penepungan sebagai bahan pembuat roti.

Selaian itu limbah hasil penggilingan batang sorgum bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan bahan bakar pengolahan nira sorgum.

Kedepan kami dari Lembaga Strategi Pembangunan Berkelanjutan berkeyaninan, dengan pengembangan tanaman sorgum dilahan marginan selaian dapat sebagai tanaman konservasi juga dapat meningkatkan pendapat ekonomi petani dalam rangka mencapai ketahan pangan dan kemandirian energi.

Penulis: Henri Krismawan, SP., MM. Direktur LSPB Jogjakarta, Tanggal 27 Februari 2019

Leave A Comment