Focus Group Discussion: Penyusunan Kajian Potensi Pendapatan Pajak Reklame Berkaitan dengan PAD Kota Yogyakarta

Yogyakarta, pada hari Ahad 20 September 2020, bertempat di Bilik Kayu Herigate Restro SDS Institute mengadakan acara Focus Group Discussion bersama Anggota Dewan DPRD Komisi D, BPKAD, P3ADK dan Perwakilan SatPol PP Kota Yogyakarta. Acara tersebut membahas tentang Potensi Pendapatan Pajak Reklame berkaitan dengan PAD Kota Yogyakarta.

Agus amin sebagai moderator membuka acara dan menyampaikan perlunya optimalisasi pendapatan pajak reklame,yang kemudian dibahas oleh narasumber bapak Ardhito Bhinadi, salah satu Dosen di Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta.

“Kalau kita ilustrasikan dalam mengkaji potensi pendapatan dari pajak ini seperti sistem aliran air” tutur Ardhito dalam membuka pembahasan. “Ada sumber air, ada pipa penyaluran, ada kran, dan ada penampungan air” lanjutnya. “Sumber air sebagai sumber potensi pajak, pipa saluran sebagai jalur distribusi, kran air sebagai regulator pengaturan perpajakan, dan wadah airnya sebagai tata pelaksana perpajakan” tutur Ardhito dalam menjelaskan ilustrasinya.

Bahwa perlu langkah ilmiah dalam mengkaji potensi ini. Perlu merumuskan sumber masalah, kemudia mengidentifikasi masalhnya, dan dari itu dapat menentukan arah kajian bagaimana solusi dan rumusan dalam mengoptimalisasi pendapatan pajak reklame.

Jalannya diskusi membuat anggota dewan DPRD Komisi D, anggota BPKAD, P3ADK memberikan tanggapan. Poin tanggapannya antara lain: 1) perlu menentukan data dari berbagai pihak yang terlibat dalam masalah reklame, 2) memberi target minimal pendapatan dari pajak reklame, 3) regulasi ijin dan pengawasan reklame harus jelas dan tegas, 4) tentang masalah kebocoran pelangar pajak harus diberikan sangsi. Dan yang paling utama dari poin tanggapan Dewan ini adalah Perda yang telah dibuat wajib digunakan sebagai panduan untuk menjalankan regulasi dan kebijakan sebagai kajian dari potensi pendapatan pajak reklame.

Kajian ini penting untuk di rumuskan kerena kita tidak ingin menjadikan kota Yogyakarta ini sebagai “Kota Sampah Visual” karena menjadi “Hutan Reklame” tutur anggota Dewan sebagai Penutupan acara diskusi ini.

Leave A Comment